Sejarah Perkembangan Aksara Tionghoa (3)
Penelitian terhadap Aksara Tionghoa sudah dimulai sebelum Dinasti Qin. Kitab Shizhoupian 《史籀篇》adalah kitab karangan sejarah hasil riset tentang Aksara Tionghoa yang berbentuk huruf, namun sangat disayangkan kitab ini tidak diwariskan.
Pada masa Dinasti Qin, terdapat banyak kitab yang merupakan hasil riset terhadap Aksara Tionghoa, di antaranya Kitab Changjie 《仓颉篇》 karangan Li Si (李斯), Kitab Riwayat 《爰厉篇》 karangan Zhao Gao (赵高), dan Kitab Pengetahuan《博学篇》 karangan Hu Wujing (胡毋敬). Pada masa Dinasti Han, ketiga kitab tersebut digabung menjadi satu dan tetap disebut Kitab Changjie. Selain itu, juga terdapat Kitab Pencapaian Cepat 《急就篇》 karangan Shi You (史游). Penyusunan kitab-kitab di atas tujuan utamanya adalah untuk mengajarkan aksara kepada anak-anak.
Pada masa Dinasti Han Timur, Xu Shen (许慎) menyusun sebuah mahakarya yang terkenal sepanjang masa, yaitu Kitab Analisis Aksara Tionghoa 《说文解字》. Kitab Analisis Aksara Tionghoa ini disusun berdasarkan analisa dari enam struktur penciptaan Aksara Tionghoa atau disebut Liushu (六书). Liushu merupakan enam kategori aksara, pada awalnya tercantum dalam Kitab Tata Krama dan Adat Istiadat Zhou 《周礼》. Ban Gu (班固), seorang ahli dari Dinasti Han Timur menjabarkan pengertian tentang Liu Shu dalam karangannya yang disebut Kitab Hanshu Yiwenzhi 《汉书.艺文志》.
Dalam Kitab Analisis Aksara Tionghoa dijelaskan secara terperinci tentang Liushu. Adapun keenam kategori aksara yang dimaksud adalah:
1 Metode Xiangxing (象形)

Metode Xiangxing atau Piktograf, adalah penulisan Aksara Tionghoa sesuai dengan bentuk dan wujud daripada suatu benda, di mana garis yang melengkung, mengambarkan bentuk atau wujud dari benda tersebut. Misalnya 日、月、人、女、木.
2 Metode Zhishi (指事)
Metode Zhishi atau Ideogram, adalah penulisan Aksara Tionghoa dengan memberikan tanda petunjuk berupa titik atau garis pada aksara lain. Misalnya:
a Aksara “上” (shàng) adalah dengan memberi sebuah tanda petunjuk berupa titik pada atas sebuah garis, sehingga bermakna atas.
b Aksara “刃” (rèn) adalah dengan memberi sebuah tanda petunjuk berupa titik pada aksara “刀” (dāo), sehingga bermakna mata pisau (bagian yang tajam dari pisau).
c Aksara “甘” (gān) adalah memberi sebuah tanda petunjuk berupa garis dalam aksara “口”artinya mengulum sesuatu dalam mulut dan merasakan rasa manis, sehingga aksara tersebut memiliki arti ”manis”.
d Aksara “本” (běn) adalah memberi sebuah tanda petunjuk berupa garis pada bagian bawah aksara “木” sebagai petunjuk bahwa bagian tersebut adalah akar.
3 Metode Huiyi (会意)

Metode Huiyi atau Ideogrammatic Compounds (pengabungan arti) merupakan perpaduan dua aksara atau lebih serta penggabungan makna dari aksara-aksara tersebut sehingga muncul aksara baru. Misalnya aksara “武” artinya adalah militer, merupakan perpaduan dari aksara “戈” (gē, yaitu kombinasi dari kapak dengan belati) dengan aksara “止” (zhǐ, jari kaki). Dari perpaduan kedua aksara ini, maka aksara ”武” memiliki arti melangkah sambil membawa tombak untuk berperang.
4 Metode Xingsheng (形声)

Metode Xingsheng atau Piktofonetik, merupakan aksara penggabungan unsur radikal (形旁)sebagai penanda arti dan unsur suara (声旁)sebagai penanda bunyi.
Aksara piktofonetik ini terdiri dari enam model struktur, yaitu:
a Penanda arti di bagian kiri dan penanda bunyi di bagian kanan (左形右声), misalnya 钢、河、松;
b Penanda bunyi di bagian kiri dan penanda arti di bagian kanan(右形左声), misalnya 期、鹦、鸽;
c Penanda arti di bagian atas dan penanda bunyi di bagian bawah(上形下声), misalnya 空、简、荜;
d Penanda bunyi di bagian atas dan penanda arti di bagian bawah(下形上声), misalnya 基、垄、愁;
e Penanda bunyi di bagian luar dan penanda arti di bagian dalam(内形外声), misalnya 闷、戽、瓣;
f Penanda arti di bagian luar dan penanda bunyi di bagian dalam(外形内声), misalnya 圆、裹、病.
5 Metode Zhuanzhu (转注)
Metode Zhuanzhu merupakan aksara yang memiliki arti yang sama yang dapat saling menjelaskan. Metode ini menggunakan dua aksara yang memiliki unsur radikal dan saling beranotasi. Misalnya “老” (lǎo) dan “考” (kǎo), keduanya memiliki arti usia tua. Dalam metode ini, aksara yang bisa dianotasikan memiliki dua syarat yaitu kedua aksara harus memiliki unsur radikal dan arti yang sama. Andaikata keduanya tidak memenuhi kedua syarat ini di atas, maka aksara tersebut tidak dapat dianotasi.
6 Metode Jiajie (假借)
Metode Jiajie merupakan penulisan aksara dengan sistem pinjaman fonetik, yakni aksara yang dipakai untuk mewakili aksara sebunyi. Dengan kata lain, apabila sebuah kata tidak ada aksaranya maka tidak menggunakan aksara yang baru, tetapi meminjam aksara yang memiliki bunyi yang sama untuk menyatakan kata tersebut. Misalnya:
a Aksara “我” (wǒ) artinya saya, sebenarnya adalah senjata seperti beliung, kemudian dipinjam sebagai kata ganti orang pertama tunggal (saya).
b Aksara “自” (zì) dalam Aksara Jiaguwen sebenarnya adalah hidung manusia, kemudian dipinjam sebagai kata untuk menunjuk diri sendiri, dan kemudian menciptakan aksara baru untuk menyatakan hidung yakni “鼻” (bí).
c Aksara “且” dalam Aksara Jiaguwen sebenarnya adalah leluhur, tetapi dipinjam sebagai menjadi kata penghubung, dan kemudian menciptakan aksara baru untuk menyatakan leluhur yakni “祖” (zǔ).
d Aksara “令” (lìng) dan aksara “长” (zhǎng). Pada zaman dahulu, orang yang menjadi kepala sebuah karesidenan disebut “令” (bupati), sebenarnya arti dari aksara “令”adalah memberikan perintah, sedangkan“长” menunjuk pada orang yang dituakan (sesepuh), akan tetapi untuk menyatakan kepala karesidenan tidak ada aksaranya maka meminjam aksara “令”dan“长”untuk menyatakan kepala karesidenan daerah tersebut, sehingga diciptakan kata baru seperti “县令”dan “县长”.
Empat metode pertama merupakan metode penciptaan Aksara Tionghoa, sedangkan dan metode terakhir adalah metode pemakaian Aksara Tionghoa.
Dibaca 873x
BERBAGI ARTIKEL INI...

Cuaca saat ini

JAKARTA DKI Jakarta

Rumah Mandarin © 2018-2021 Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-undang
This web developed by Benny Lo (羅強基)